Baju adat Laki-laki Jawa Barat



Menurut Gamal Komandoko (2010), wilayah Jawa Barat secara resmi dibentuk dan diberi nama resmi berdasarkan UU No. 11 oleh Hindia Belanda pada 14 Juli 1950. Pada tahun 1922, penerapan Bestuurshervomingwet telah memberdayakan Hindia Belanda atas wilayah tersebut. Sebelumnya daerah itu dikenal dengan nama Tatar Soenda atau Passoendan. Selain itu, daerah Jawa Barat juga kini memiliki nama lain yaitu Jabar yang merupakan singkatan dari kata Jawa Barat.


Jawa Barat memang terkenal dengan budaya Sunda nya. Walaupun penduduknya terdiri dari berbagai suku bangsa tetapi mereka mempraktekkan budaya dan adat istiadat yang sama yaitu budaya suku sunda. Di antara suku yang terdapat di Jawa Barat adalah suku Sunda, Badui, Jawa dan Betawi. Bahasa ibu sebagai bahasa perantara adalah bahasa Sunda.


Wilayah Jawa Barat terletak di pulau Jawa dan berbatasan dengan  Wilayah DKI Jakarta  di  sebelah  utara,  Banten  di  sebelah   barat,  Samudera  di sebelah  selatan  dan sebelah timur berbatasan dengan provinsi Jawa Tengah.


Provinsi ini terdiri dari 16 kabupaten dan sembilan kota. Daftar kabupaten di jawa barat adalah Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kuningan, Cirebon, Majalengka, Sumedang, Indramayu, Subang, Purwakarta, Karawang dan Bekasi.Nama-nama untuk semua kota tersebut adalah Kota Bogor, Sukabumi Kota, Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kota Depok, Kota Cimahi, Kota Tasikmalaya, dan Kota Banjar. Ibukota Jawa Barat adalah Bandung. Penduduk Indonesia yang sangat besar tercatat di wilayah ini.


Agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat di Jawa Barat adalah Islam. Selain itu, ada juga warga yang menganut agama Kristen Protestan, Katolik, Budha dan Hindu.


Fungsi dan Ciri-ciri Pakaian Adat Jawa Barat


Menurut Gamal Komandoko (2010), pakaian adat Jawa Barat untuk pria terdiri dari baju taqwa dengan kerah menutupi leher, kain dodot, penutup kepala blangkon, dan celana panjang yang warnanya sama dengan baju taqwa.

Saya akan menjelaskan cara memakai pakaian adat Jawa Barat dari atas hingga bawah. Mulai dari penutup kepala yang dikenal dengan blangkon atau bendo. Selanjutnya kemeja adalah kemeja taqwa. Kemudian kain dodot bermotif bebas dipakai seperti sampin. Celana tersebut merupakan celana panjang yang warnanya sama dengan kemeja taqwa. Bagian bawah adalah alas kaki baik sendal maupun sepatu.

Baju adat ini biasanya dikenakan pada saat menghadiri acara resmi, upacara adat, pernikahan dan perayaan hari raya.


Blangkon









Menurut Lydia Kieven (2013), blangkon berbentuk setengah lingkaran terbuat dari bahan padat dan ditempelkan tekstil batiknya. Sekarang, bagian yang keras pada blangkon terbuat dari karton. Pada zaman dahulu, blangkon terbuat dari ijuk kering dari batang pisang yang direkatkan menggunakan lem berbahan tepung. Namun, ada juga blangkon yang diproduksi dengan menggunakan metode tradisional.

Blangkon terbagi menjadi empat macam, yaitu blangkon Ngayogyakarta, Blangkon Surabaya, blangkon Kedu dan blangkon Banyumasan. Beberapa blangkon memiliki tonjolan di bagian belakang dan disebut sebagai tonjolan. Pada zaman dahulu, tonjolan itu disebabkan oleh ikal-ikal panjang rambut pria. Namun saat ini bagian dari tonjolan tersebut dijahit khusus karena kebanyakan pria berambut pendek.

Menurut Gagas Ulung (2011), blangkon adalah penutup kepala yang digunakan oleh laki-laki sebagai bagian dari pakaian adat Jawa. Pada zaman dahulu, blangkon hanya diproduksi oleh seniman dengan metode tradisional. Semakin teliti cara blangkon diproduksi, semakin tinggi nilainya. Di Desa Potrojayan, Kelurahan Serengan dan Surakarto terdapat sentra industri pembuatan blangkon.

Menurut Achmad Chodjim (2011) blangkon masih banyak digunakan di Solo dan Yogyakarta. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa dalang dan pemain wayang kulit juga mengenakan blangkon saat pentas.


Baju Taqwa





Baju taqwa adalah kemeja dengan kerah tegak yang menutupi leher dan berlengan panjang. Warna kemeja ini harus sama dengan warna celana panjang yang dikenakan. Kemeja ini harus diikat sampai ke depan.

Menurut Achmad Chodjim (2003), kemeja taqwa dirancang oleh Sunan Kalijaga. Ia merupakan sosok Wali Sanga yang sangat berpengaruh di Jawa karena dakwahnya. Dia juga seorang filsuf dan budayawan.

Menurutnya, meski Sunan Kalijaga diangkat sebagai anggota Wali Sanga, namun Sunan tidak mau mengenakan baju batik dan beserban ala ulama-ulama dari Jawa Timur Tengah. Selain itu, ia ingin menciptakan identitas Jawa Barat yang khas dan sesuai dengan iklim dan cuaca di negaranya.

Karenanya, ia mendesain kemeja ini dan memakainya dengan blangkon untuk menjaga jati diri Jawa. Ia memodifikasi baju taqwa dari baju adat Jawa yaitu Surjan. Surjan merupakan pakaian pria yang sering dikenakan pada acara-acara resmi pada saat itu.

Menurut M. Jandra (2004), pada bagian kerah baju taqwa terdapat tiga kancing yang melambangkan Iman, Ihsan dan Islam. Sedangkan tiga kancing di bahu kanan dan bahu kiri melambangkan dua kata syahadah. Selanjutnya, enam kancing di kedua sisi lengan melambangkan Rukun Iman. Terakhir, lima kancing di bagian depan melambangkan rukun Islam.


Kain Dodot




Menurut Diana Darling (2012), kain dodot merupakan pakaian pesta khas Jawa yang menutupi seluruh tubuh bagian bawah. Biasanya kain ini bercorak flora dan fauna serta hujan.

Menurut Achmad Chodjim (2011), kain dodot merupakan kain panjang yang dikenakan oleh kerabat kerajaan. Selain itu kain ini juga digunakan sebagai selimut tidur.

Menurut Rudolf G. Smend (2006), kain dodot dipakai oleh keluarga kerajaan dalam upacara-upacara resmi. Kain ini dikenakan dengan cara melilitkan seluruh bagian bawah tubuh dimulai dari ujung kain dibungkus hingga ujung kain lainnya tersisip rapi. Selain dipakai oleh keluarga kerajaan, kain dodot juga dipakai oleh para penari dan calon pengantin.Menurut tradisi Jawa, meski pengantin baru berasal dari kalangan rakyat biasa, mereka memakai kain dodot untuk melambangkan keistimewaan menjadi raja satu. hari.

Menurut Rasmujo Kahar (2012) kain dodot dikenal juga dengan nama kampuh. Kaindodot laki-laki berukuran 400 cm X 200 cm, sedangkan untuk perempuan 500 cm X 200 cm. Ukuran kain dodot untuk raja adalah 750 cm X 250 cm.

Menurut Jill Condra (2013), kain dodot merupakan kain keluarga kerajaan yang dijahit memanjang. Kain ini dikenakan dengan celana panjang sutra, dilipat dan dibungkus seperti sampin. Menurut pakaian adat Jawa Barat, kain dodot dipakai dengan celana panjang, dilipat dan dibungkus seperti sampin.



Celana panjang


Kriteria celana panjang yang dikenakan pada pakaian adat Jawa Barat harus sama warnanya dengan baju taqwa. Potongan celana panjang mulai dari setinggi pinggang hingga setinggi mata kaki.


Alas Kaki


Menurut pakaian adat Jawa Barat untuk pria, alas kaki yang dipakai bisa berupa selop hitam atau sepatu hitam. Sepatu hitam biasanya dipakai saat menghadiri acara resmi dan upacara adat. Biasanya orang dari golongan biasa hanya memakai selop hitam. Tujuan pemakaian alaskaki adalah untuk melindungi dan menjaga kebersihan kaki.


Kesimpulan



Saat ini pakaian adat Jawa Barat masih tetap dikenakan khususnya oleh masyarakat Jawa Barat sendiri, pakaian tersebut belum punah karena masyarakat telah menjadikan pakaian tersebut sebagai budaya. Saya berharap pakaian adat ini terus dikenakan agar generasi penerus tidak ketinggalan zaman.

Kesimpulannya, semua pihak memegang peranan penting dalam menjaga budaya mengenakan busana adat ini. Selain itu, kita perlu mengekspos lebih luas ke dunia luar tentang gaun ini agar tidak tertelan oleh perkembangan zaman dan menampilkan keunikan gaun ini. Jika kita tidak melakukan itu, siapa lagi?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Kerja Kapal Selam

Hasil Barang Tambang di Semua Provinsi di Indonesia

Hasil Barang Tambang di Daerah Cilacap